Kodrat Alam dan Kodrat
Zaman
Selama ini, saya hanya
tau konsep ki hajar dewantara yang tut wuri ...dst. Selama 3 jam lebih, prof.
Sutrisna memaparkan tentang Pendidikan yang Memerdekakan berdasar konsep Ki
Hajar Dewantara, dan memang layaklah jika beliau disebut bapak pendidikan,
karena konsep yang digagasnya sungguh visioner, diantaranya adalah "
Kodrat Alam dan Kodrat Zaman " ( detailnya silahkan dibaca sendiri di foto
terposting )
saya langsung ke contoh
nyata, riill yang sudah kami ( saya dan istri ) terapakan semampunya ketika
ngurus santri dipondok, terkait kodrat alam khususnya, dan akan saya ceritakan
sukses story nya.
Pendidik ( guru /
Musyrif ) ibaratnya seorang petani yang menanam tanaman yang berbeda dalam 1
lahan ( ada padi, jagung dll ), meskipun tanaman itu berbeda, tugas petani
adalah menjaga dan membersamai tanaman itu agar tumbuh dan berkembang, sesuai
kodratnya, jika bibitnya padi, maka jangan berharap bibit padi tumbuh menjadi
jagung, begitu juga sebaliknya. dalam perawatanpun mungkin ada sedikit
perbedaan perlakukan, namun ada misi yang sama yaitu menjaga tanaman - tanaman
tersebut agar terlindungi dari hama.
Tumbuh sesuai kodrat
yang dimaksud adalah menumbuhkan dan mengembakan potensi santri yang ada,
melindungi dari hama yaitu melindungi dari bahaya toxic ( terkait akhlak,
pergaulan dll ) yang tidak baik. Petani yang dimakud adalah para pendidik yang
membersamai tumbuh kembang santrinya hingga menemukan "kodrat
alam"nya.
Sukses story yang akan
sharingkan ;
diantara angkatan lulusan
santriwati tahun 2022, ada 1 santriwati secara akademik dibawah rata-rata (
bisa dibilang 5 besar dari bawah ), ketika covid 2020 an, alhamdulillah dia
telah menemukan kodrat alamnya, bakat sudah ditemukan yaitu terkait dalam hal
tulis menulis, berbagai lomba kepenulisan dia ikuti, dan selalu mendapat juara
3 besar, tugas kami ketika dia kembali ke pondok adalah merawat dan
memfasilitasi dan mengarahkan skill yang dimiliki dengan membentuk KPM (
komunitas Pena Menari ) yang dibimbing secara online oleh Penulis nasional yang
alumni ma'ahid. ya..memang kami berdua tidak faham dunia kepenulisan, yang bisa
kami lakukan adalah " Conecting dots " menyambungkan titik-titik
kolaborasi dengan pihak lain, untuk tercapainya target. Sekarang santriwati tersebut
sudah menghasilkan karya buku yang ber-ISBN
Sukses Story yang kedua,
hampir mirip, terjadi di angkatan tahun ini juga, secara akademik dia 3 besar
dari bawah, dulu dia menjadi pribadi yang sensitif ( bisa - bisa mau pindah
sekolah ) dan akhirnya hari ini sudah ketemu bakatnya, sama di dunia
kepenulisan, tahun lalu juara dan mendapat hadiah uang lumayan besar, 3 juta an
Sukses Story yang
ketiga, ada 1 santriwati tahun lalu, secara atitude dan akhlak, saya sendiri
ngurut dada, tidak tau dengan cara apa, dan sama, dia ingin keluar juga dan
pindah sekolah, hampir semua teman dan beberapa pendidik menjudge sebagai anak
nakal dan bermasalah, tapi alhamdulillah ...sudah ada perubahan, memang perlu
waktu dan kesabaran, perlu membangun jembatan rasa, menjadi sahabat dikala
semua membencinya ( kalo ini yang jago dan telaten istri saya ), semoga
perubahan ini bisa istiqomah. si santriwati menemukan kodrat alamnya dalam
dunia leadership dan organisasi.
yang menjadi kesimpulan
itu gini, ketika ada santri yang dalam tanda kutip dianggap nakal atau
bermasalah, diantara sebabnya adalah potensi dan energi ( kodrat alam ) nya
tidak ada yang mengarahkan, tidak ada yang membantu menemukan. ketika energi
dalam dirinya tidak tersalurkan, maka sesuai hukum energi dia harus berubah bentuk,
dan bentuknya menjadi hal-hal yang dianggap nakal ( bolos, ngrokok, dll ), tapi
jika sudah ketemu kodrat alamnya dan tersalurkan ditempat yang positif insya
allah tidak akan menyalurkan energinya kepada hal yang dapat merusak dirinya
atau lingkungannya.
untuk kodrat zaman bisa
dibaca sendiri, intinya bagaimana membekali anak dengan kodrat dan perkembangan
zaman yang ada, dan tentu ada batasan norma agama dan sosial yang perlu
diperhatikan.
semoga bermanfaat



Tidak ada komentar:
Posting Komentar