Kelas Pemikiran Bag 1 # Teacher Master Class Batch 2 - Jejak Inspirasi Transformasi

Catatan Pribadi Berbagi Inspirasi Untuk Bertransformasi Menjadi Pribadi Lebih Baik ------------------------------------------------------------------------------------------

Terbaru

Sabtu, 04 Mei 2024

Kelas Pemikiran Bag 1 # Teacher Master Class Batch 2


        Diawal sesi, sang profesor langsung memberikan refleksi berupa pertanyaan :

" mengapa saya memilih menjadi guru ? "

        para peserta langsung mengisi jawaban pada link yang sudah disediakan, bermacam-macam jawaban bermunculan di layar.

        anehnya tidak ada satupun peserta yang menuliskan bahwa menjadi guru adalah cita-citanya sejak kecil, dan hanya minoritas yang menuliskan bahwa menjadi guru adalah panggilan jiwa nya yang sejati.

        Jika hari ini, ada guru yang menjadi guru, maka perlu muhasabah diri, apakah profesi guru sudah menjadi panggilan jiwa sejatinya-jika memang sejak kecil tidak pernah punya cita-cita menjadi guru.

        sang prof, berpesan jika memang hari ini belum ada getaran hati menjadi guru, maka perlu dipaksakan ( dikulinakno ) sampai getaran hati itu muncul, kalau dalam bahasa kitab yaitu ruhul muallim nya muncul.

        bagaimana tahapannya ?

    latihlah PRUL selalu selaras, apa itu PRUL ? yaitu Pikiran - Rasa - Ucap - Laku, keempat hal ini dipaksa dan dilatih untuk selalu selaras, sampai ruhul muallim menancap dalam hati.

       itu konsep fundamental yang pertama.

    Kedua, sang prof memberikan refleksi lagi, " selama ini, kita menjadi pendidik yang menuntut atau menuntun ? "

    konsep menuntut dan menuntun beliau jabarkan dengan detail, dan guru yang baik adalah Guru yang menuntun, dan siswa adalah yang dituntun.

    tentu kita semua faham menuntun perlu kesabaran, dan yang dituntun hasil akhirnya adalah menumbuhkan kemandirian.

    beliau mengilustrasikan seperti seorang ibu menuntun anaknya belajar berjalan, ada jatuh-jatuhnya, dengan penuh kesabaran dan tidak marah ataupun emosi jika si kecil jatuh, justru selalu memberi semangat, dan akhirnya si kecil mampu mandiri dan akhirnya mampu berjalan tanpa dituntun lagi.

    ya..menuntun perlu tenaga ekstra, dan tidak mungkin guru yang tidak memiliki ruh muallaim akan sanggup melakukan itu, layaknya jika bukan jiwa seorang ibu akan memiliki kesabaran dalam menuntun anaknya.

    maka aneh, jika ada guru yang ngajar di kelas dan melaporkan materi sudah habis dan waktu masih terisa beberapa hari dan bingung mau diisi apalagi, karena materi sudah habis, yakinlah guru tersebut baru tahap menyampaikan materi, karena jika guru tersebut punya jiwa "menuntun" pasti akan membantu siswa-siswanya yang masih belum faham. karena dalam kelas, pasti ada 3 jenis siswa, cerdas, middle, low ( yang ini perlu dituntun agar mencapai KKM)

    dan memang ketika menuntun sekali lagi, perlu sabar dan telaten, dan itu sudah saya lakukan, ketika dikelas atau ngajar pelajaran malam di pondok. butuh energi dan motivasi yang besar (maka dari itu, tiap tahun saya recharge energi dengan pelatihan seperti ini, agar ada yang mengingatkan )

    Ketiga, terkait konsep kontinue, dalam pendidikan perlu diperhatikan konsep keberlanjutan, tidak boleh terpotong.

    konsep ini menginspirasi diri pribadi ini, bagaimana mengkonsep kurikulum secara holistik di ma'ahid. dari MTs sampai MA. memang selama ini beberapa materi sudah terkonsep seperti nahwu, namun mapel yang lain belum.

    mengkonsep bahwa program pendidikan disetting 6 tahun dan saling terkait, karena jika cuma 3 tahun maka hasilnya belum maksimal dan benefit yang dirasakan santri dan wali santri belum dapat dikatakan sempurna.

    namun disisi lain lembaga juga harus kreatif bagaimana membuat suasana dan fasilitas yang "menyenangkan" bagi siswa, karena 6 tahun belajar dalam 1 lembaga yang sama bisa jadi menjadi kejenuhan buat siswa. saya saja di LIPIA 7 tahun , pada tahun ke 6 sudah mencapai titik jenuh, padahal fasilitas lengkap.

    itu tantangan bagi teman-teman semua bagaiman mengkonsep pendidikan yang berkelanjutan.

sementara itu dulu, masih banyak konsep pemikiran yang beliau sampaikan, diantaranya

1. kodrat alam dan zaman

2. konvergensi dan konsentris

3. konsep hukuman yang edukatif

4. Konsep ngemong dan ngopeni

5. Perbedaan pendidikan dan pengajaran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar