" mengapa saya
memilih menjadi guru ? "
para peserta langsung
mengisi jawaban pada link yang sudah disediakan, bermacam-macam jawaban
bermunculan di layar.
anehnya tidak ada
satupun peserta yang menuliskan bahwa menjadi guru adalah cita-citanya sejak
kecil, dan hanya minoritas yang menuliskan bahwa menjadi guru adalah panggilan
jiwa nya yang sejati.
Jika hari ini, ada guru
yang menjadi guru, maka perlu muhasabah diri, apakah profesi guru sudah menjadi
panggilan jiwa sejatinya-jika memang sejak kecil tidak pernah punya cita-cita
menjadi guru.
sang prof, berpesan jika
memang hari ini belum ada getaran hati menjadi guru, maka perlu dipaksakan (
dikulinakno ) sampai getaran hati itu muncul, kalau dalam bahasa kitab yaitu
ruhul muallim nya muncul.
bagaimana tahapannya ?
latihlah PRUL selalu
selaras, apa itu PRUL ? yaitu Pikiran - Rasa - Ucap - Laku, keempat hal ini
dipaksa dan dilatih untuk selalu selaras, sampai ruhul muallim menancap dalam
hati.
itu konsep fundamental
yang pertama.
Kedua, sang prof
memberikan refleksi lagi, " selama ini, kita menjadi pendidik yang
menuntut atau menuntun ? "
konsep menuntut dan
menuntun beliau jabarkan dengan detail, dan guru yang baik adalah Guru yang
menuntun, dan siswa adalah yang dituntun.
tentu kita semua faham
menuntun perlu kesabaran, dan yang dituntun hasil akhirnya adalah menumbuhkan
kemandirian.
beliau mengilustrasikan
seperti seorang ibu menuntun anaknya belajar berjalan, ada jatuh-jatuhnya,
dengan penuh kesabaran dan tidak marah ataupun emosi jika si kecil jatuh,
justru selalu memberi semangat, dan akhirnya si kecil mampu mandiri dan
akhirnya mampu berjalan tanpa dituntun lagi.
ya..menuntun perlu
tenaga ekstra, dan tidak mungkin guru yang tidak memiliki ruh muallaim akan
sanggup melakukan itu, layaknya jika bukan jiwa seorang ibu akan memiliki
kesabaran dalam menuntun anaknya.
maka aneh, jika ada guru
yang ngajar di kelas dan melaporkan materi sudah habis dan waktu masih terisa
beberapa hari dan bingung mau diisi apalagi, karena materi sudah habis,
yakinlah guru tersebut baru tahap menyampaikan materi, karena jika guru
tersebut punya jiwa "menuntun" pasti akan membantu siswa-siswanya
yang masih belum faham. karena dalam kelas, pasti ada 3 jenis siswa, cerdas,
middle, low ( yang ini perlu dituntun agar mencapai KKM)
dan memang ketika
menuntun sekali lagi, perlu sabar dan telaten, dan itu sudah saya lakukan,
ketika dikelas atau ngajar pelajaran malam di pondok. butuh energi dan motivasi
yang besar (maka dari itu, tiap tahun saya recharge energi dengan pelatihan
seperti ini, agar ada yang mengingatkan )
Ketiga, terkait konsep
kontinue, dalam pendidikan perlu diperhatikan konsep keberlanjutan, tidak boleh
terpotong.
konsep ini menginspirasi
diri pribadi ini, bagaimana mengkonsep kurikulum secara holistik di ma'ahid.
dari MTs sampai MA. memang selama ini beberapa materi sudah terkonsep seperti
nahwu, namun mapel yang lain belum.
mengkonsep bahwa program
pendidikan disetting 6 tahun dan saling terkait, karena jika cuma 3 tahun maka
hasilnya belum maksimal dan benefit yang dirasakan santri dan wali santri belum
dapat dikatakan sempurna.
namun disisi lain
lembaga juga harus kreatif bagaimana membuat suasana dan fasilitas yang
"menyenangkan" bagi siswa, karena 6 tahun belajar dalam 1 lembaga
yang sama bisa jadi menjadi kejenuhan buat siswa. saya saja di LIPIA 7 tahun ,
pada tahun ke 6 sudah mencapai titik jenuh, padahal fasilitas lengkap.
itu tantangan bagi
teman-teman semua bagaiman mengkonsep pendidikan yang berkelanjutan.
sementara itu dulu,
masih banyak konsep pemikiran yang beliau sampaikan, diantaranya
1. kodrat alam dan zaman
2. konvergensi dan
konsentris
3. konsep hukuman yang
edukatif
4. Konsep ngemong dan
ngopeni
5. Perbedaan pendidikan
dan pengajaran



Tidak ada komentar:
Posting Komentar