Perjalanan pulang
dari jakarta ke kudus, bareng akh irham ada banyak cerita, khususnya keluh
kesah dan tantangan menjadi garda terdepan pengasuhan santri-santri pondok.
Teringat 1 pesan ustadz kamal dalam acara upgrading untuk para musyrif dan
musyrifah adalah, ketika sudah menyanggupi amanah sebagai musyrif atau
musyrifah maka harus siap hidup dengan berbagai masalah, baik masalah yang
terkait dengan santri atau wali.
Para musyrif/ah
sebagai garda terdepan tentu menghadapi 1001 kondisi yang rumit dan
bermacam-macam. dan tentu lelah fisik, pikiran dan hati tak dapat dipungkiri.
kutanya akh irham, kalo sudah "mutek" , healingnya apa? ternyata bagi
dia dan beberapa musyrif yang lain healingnya adalah pergi keluar, jalan-jalan
dan makan-makan. kita berdua sepakat 6 bulan terakhir ini memang kondisi agak
terasa berat menghadapi apa yang dilapangan, memang buat sebagian musyrif ada
yang "easy going" nggk dipikir abot, tapi bagi yang lainnya tentu
beda, kalo saya sendiri, sampai harus nempelin 2 koyo cabe di punggung, karena
area punggung benar-benar terasa berat.
Yang jadi pikiran
saya adalah, bagaimana musyrif/ah yang lain menemukan healing yang tepat untuk
dirinya ketika menghadapi puncak-puncak kelelahan, healing yang mampu memberi
energi baru, setidaknya mengurai keruwetan hati dan pikiran.
kalau saya sendiri,
setahun sekali paling tidak harus ada 1 acara pelatihan yang berfokus untuk
melepas toxic-toxic yang ada dalam diri, toxic yang masuk kedalam diri dari
faktor luar, 2018 ICMYR di Bandung, 2019 MMBC di malang, 2022 School Of Mentor
di Jakarta.
Sebenarnya ada
healing yang efektif, yaitu Me Time di sepertiga malam, gratis tak berbayar,
asal selalu mengasah diri untuk "ngobrol sama Allah " agar selalu
dikuatkan dalam setiap aktifitas.
beda dengan istri,
semalam diskusi, healing apa yang dibutuhkan ketika kondisi sedang drop, ketika
diri dipenuhi toxic, ternyata jawabannya simpel cukup pelukan, senyuman,
kata-kata yang halus dan diizinkan Ikut acara PPA sudah cukup menjadi healing
buat dirinya. dan akhirnya kami pun menyepakati hal tersebut, yang kedua kami
berusaha berkomitmen untuk berusaha tidak menjadi TOXIC bagi yang lain, tidak
menyakiti orang lain baik lewat kata-kata atau respon yang negatif untuk
lingkungan sekitar. karena mengurus pondok butuh ( EPOS ) energi positif yang
besar.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar