Sebenarnya case ini sederhana, ya ...mau gimana lagi, ngurus santriwati ada perbedaan dari ngurus santri putra, bermula dari laporan ada santriwati berbicara tidak sopan dan merasa diintimidasi oleh santri lain,ada yang model menyindir, tatapan mata yang sinis, verbal secara langsung. Setelah melakukan kroscek ke semua pihak yang terkait, baik kakak kelas, adik kelas, pelaku dan korban, akar masalahnya memang di hati, ya kuncinya di hati, dari hati selanjutnya berdampak ke akhlak ( respon spontan yang muncul dari diri seseorang), ditambah lagi adanya respon pihak lain ( orang ketiga) circle yang dimiliki santri tadi, yang tentunya permasalahan makin melebar.
1. Sikap mata
Lirikan, pandangan mata yang tajam, tidak sopan atau terkesan merendahkan dan sebagainya yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan pihak lain.
Hal ini mengingatkan salah satu tafsir dari surat al humazah, "humazah" yaitu mencela orang lain dengan tangan dan mata dan lumazah mencela dengan lisan ( menurut imam mujahid ) dan memang ada banyak penafsiran, tapi jika dirangkum semua penafsiran yang ada, maka kurang lebihnya makna-nya adalah " Mereka adalah orang-orang yang menyebarkan fitnah, yang membangkitkan perselisihan di antara orang-orang yang saling mengasihi, dan yang mencari aib makhluk. Maka dengan ini keduanya, pengumpat dan pencela, mempunyai makna yang sama"
kembali ke surat al humazah, pesan yang ada dalam surat tersebut benar-benar dikuatan diawal surat adalah jika ada orang yang "hobi-nya" mencela, bullying, tukang menjatuhkan harga diri orang lain, maka di nash oleh al qur'an akan sial, celaka baik dunia maupun akherat. Di dunia attitude negatif seperti akan secara alami tidak akan disukai, yang suka hanya circel sesama pencela, dan akan berdampak dalam kehidupan keluarga, karir, masyarakat
2. Ghibah dan Namimah
Inilah dosa besar yang dianggap kecil, menyadarkan tidak baiknya hal ini kepada santri, musyrif, bahkan guru sangatlah perlu, karena makan daging-bangkai saudaranya terasa lezat bagaikan makanan dikasih micin, makin nagih...dan gurih.
شَرَارُ عِبَادِ اللهِ تَعَالَى الْمَشَاءُونَ بِالنَّمِيمَةِ الْمُفْسِدُونَ بينَ الأحبة الْبَاغونَ الْبُرآء العيب
Artinya, "Seburuk-buruknya hamba Allah swt adalah orang-orang yang menyebarkan fitnah, yang membangkitkan perselisihan di antara orang-orang yang saling mengasihi, dan yang mencari aib makhluk."
cukuplah perkataan nabi ini sebagai nasehat dan pengingat, banyak yang ngaku cinta nabi, tapi di mata nabi dipandang manusia terburuk, entah bagaimana respon nabi jika ketemu dengan pribadi-pibadi yang suka namimah. jika mengaku cinta nabi, maka hiasi diri dengan perilaku yang dicintai nabi bukan yang dibenci nabi. Agar sampai level ini memang diperlukan kesadaran diri yang lebih tinggi lagi serta kebersihan hati, untuk mencapai level itu perlu melakukan perenungan diri diiringi dengan ketenangan jiwa, kalo jiwanya terkotori dan kemrungsung ditambah hiruk pikuk yang ada disekitar, jangan harap mampu ke level kesadaran itu.
setelah kesadaran itu terbentuk, maka perlu latihan, Riyadloh untuk melepaskan dari kebiasaan akhlak yang tidak baik.
3. Respon reaktif
Ilmu merespon terhadap kejadian, perlu dipelajari dan dilatih, jika tidak pandai mengontrol diri, maka akan menjadi pribadi yang reaktif dan sumbu pendek. apapun kejadian yang terjadi sebenarnya sifatnya adalah netral,tergantung respon kita seperti apa, dan bagaimana kita memberi "muatan" / menilai atas kejadian itu, jika memberi arti / nilai positif insya allah hasilnya akan positif dan jika negatif hasilnya akan negatif.
Respon seseorang itu dipengaruhi dan dibentuk oleh 2 hal, yaitu
- Ilmu - Akal; sejauh mana ilmu -akal ( pikiran ) yang dimiliki, apakah berisi hal-hal yang baik atau buruk. diantara yang menjadi konsumsi akal bisa bersumber dari bahan bacaan dan media yang sering ditonton, serta berbagai informasi yang dia terima selama ini secara umum.
- Hati (perasaaan ) sejauh mana bersih dan tidaknya hati, sejauh mana tazkiyatun nafs yang dia lakukan, serta spiritual nya yaitu amalan-amalan ibadahnya yang menjadi kontrol dan stabilizer dari kedua hal tadi, akal dan hati
ukhuwah atau persahabatan dan persaudaraan akan terwujud makin sempurna dan baik jika ketiga hal tersebut menjadi bahan perhatian.
Seni bergaul dan berinteraksi dengan orang lain sangat memerlukan ilmu, keluasan dan kebersihan hati, serta yang terpenting adalah latihan, jika gagal maka belajar dan memperbaiki diri dan mencoba lagi, insya allah proses dari yang ada akan membentuk pribadi yang lebih bijak dan humble
insya allah akan ada seri lanjutannya, seni mengontrol lisan, karena tidak jarang tajamnya lisan membuat generasi milineal, alpha menjadi makin rapuh diantara mereka, OVT dengan omongan-omongan yang tidak terkontrol diantara sesama mereka.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar